Pengalaman Awal Kali Merantau ke Bandung

PROLOG

Tulisan ini saya buat sebagai bahan tugas dari pesantren sintesa dan sebagai media pembelajaran bagi saya agar kedepanya saya lebih lancar dalam menulis sesuatu. Tulisan ini murni pengalaman pribadi saya tanpa adanya rekayasa.

KERAGU-RAGUAN

Hidup memang selalu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan, kita tidak bisa memilih segala sesuatu, memang harus ada yang dikorbankan, dalam ekonomi ada istilah opportunity cost. Ketika kita memilih A maka kita harus merelakan yang B. Begitulah awalnya ketika saya punya niat untuk merantau meninggalkan rumah.

Ragu-ragu antara harus meninggalkan rumah yang memang saat itu kondisi ibu dirumah sendirian, karena anak-anaknya masih sekolah di pesantren, atau pergi meninggalkan rumah demi mahalnya sebuah pengalaman. Keinginan untuk meningkatkan kualitas saya semakin menguat, karena sudah 2 tahun saya tidak menambah wawasan alias pengangguran , tapi siapa yang akan menemani ibu di rumah.

Sifat keraguan itu menimbulkan dilema di hati saya, bingung, cemas, yang akhirnya kerjaan saya cuma tiduran di rumah. Tapi Alhamdulilah ALLAH memberi saya seorang ibu yang paham betul akan keinginan anakny, ibu yang benar-benar kuat secara mental.

Ibu merelakan saya pergi untuk meninggalkan rumah, karena memang waktu itu tujuan saya untuk menghafal alquran, dan ibu sangat mendukung tujuan tersebut. Walau beliau merelakan saya, tapi saya yakin beliau meralakanya dengan sangat berat..

Dari situ saya baru belajar satu hal, ibu saya adalah seseoarng yang paling kuat, paling tegar, paling wow intinya, dari semua orang yang pernah saya temui. Walau kadang saya berbeda pendapat dengan ibu saya, tapi beliau adalah pahlawan yang tak tergantikan. Beliau adalah panutan saya dalam membina anak-anak saya kelak. Intinya, terima kasih atas jasamu selama ini. I love you buk .

PERJALANAN ITUPUN DIMULAI

Hari keberangkatan pun tiba, meski dengat berat hati, dan air mata dari ibu, berangkat tetaplah harus berangkat. kesukseasan memang harus dibayar dengan pengorbanan yang besar, begitu kata ibu.

Jujur, itu adalah awal saya pergi jauh dari rumah, meski saya pernah pesantren yang lumayan jauh dari rumah, tapi perjalana kali ini berbeda, perjalanan ini benar-banr jauh dari rumah, saya sadar bahwa pulang adalah suatu hal yang langka. Kerinduan pasti akan menghampiri, tapi entah kapan…

Itulah pertama kali saya naik kereta, bernagkat sendiri tanpa ada orang yang dikenal di tempat tujuan, lingkungan baru yang tidak seperti biasanaya. Pengalaman itu memang cukup membekas sampai saat ini, karena itulah awal dimana saya menyadari bahwa merantau adalah hal yang menyenangkan.

BELAJAR UNTUK LEBIH DEWASA

Hidup di perantauan, segala hal memang harus dipertimbangkan dengan baik, , mulai dari  mengatur finansial, mengenal lebih jauh adat sekitar, adaptasi dengan orang baru di sekitar, karena itu semua berpengaruh bagi kelangsungan hidup kita selanjutnya di tempat tersebut.

Kondisi yang jauh dari orang tua mengharuskan saya melakukan segala sesuatnya dengan  mandiri, pusing memang. Mengelola keuangan adalah masalah terbesar saya. Saya lebih sering kehabisan uang di tanggal tua, daripada menyisakan uang untuk ditabung.

Dari situlah saya belajar, bahwa nanti kedepanya kehidupan saya tidak akan jauh berbeda dengan yang saya rasakan saat itu..

TEMAN BARU DARI LATAR BELAKANG YANG BERBEDA.

Bukan hanya pengalaman saja yang saya dapatkan di perantauan. Tapi juga teman dari berbagai macam daerah, dan dari latar belakang yang berbeda-beda.  Saya mulai mengenal berbagai macam tipe orang, mulai dari kebiasaan, logat bicara, sampai dari selera makanan.

Begitu juga saya lebih mengenal keberagaman dalam beragama, bahwa agama islam itu luas, dan beragam. Saya jadi lebih memahami antara satu dengan yang lain, sehingga tumbuh rasa toleransi antara sesama.

Begitu juga dari sisi pengalaman, saya mengenal seseorang yang sudah pernah keliling dunia karena bekerja di pelayaran, ada juga seseorang yang pernah sekolah di salah satu universitas terbaik di indonesia, bahkan sampai sekolah ke luar negri. Ada juga yang punya usaha travel umroh, yang sudah meng-umrohkan ribuan orang.

Intinya dengan merantau pemikiran saya lebih terbuka dengan hadirnya teman-teman yang baru. Dan  menyadari bahwa masih ada ratusan atau bahkan ribuan  tipe manusia yang belum saya kenal.

RINDU ORANGTUA

Rindu adalah sifat manusiawi seseorang manusia. Apalagi di tempat saya belajar saya hanya diperbolehkan menghubungi orang tua sebulan sekali, tentu rasa rindu sering muncul ketika futur atau bosan.

Kadangkala kita butuh suntikan motivasi dari orang tua, nasehat yang mebakar semangat atau hanya sekedar menanyakan kabar yang dirumah, atau bahkan bisa curhat berbagai macam halnya.

Pernah suatu ketika, saya menangis sendirian di kamar memikirkan keadaan orangtua, merasa bersalah meninggalkan ibu dirumah sendirian, tapi setelah telfon dan tanya kabar, saling curhat, rindu itu sedikit demi sedikit hilang, dan mulai muncul semangat baru.

Obat dari rindu adalah bertemu, tapi berkomunikasi dengan orangtua lewat telefon setidaknya sudah mengurangi rasa itu. Cukup kita daokan dari jauh, kita titipkan orangtua kita kepada dzat yang maha menjaga segala sesuatunya.

LEBIH MENCINTAI DAERAH ASAL

Karena tujuan saya dibandung kala itu , saya lebih mudah mengenal budaya mereka, karena menurut saya sunda dan jawa adalah suku yang tidak jauh berbeda, mulia dari keramahan orang-orangnya, selera lidahnya, sampai bahasanya.

Tapi, sejauh apapun kita pergi, kampung halaman selalu berarti dan tetap di hati.Di bandung, saya lebih menjiwai menjadi orang jawa ketimbang ketika saya berada dirumah.

Ketika saya bertemu orang jawa disana, saya merasa ada di kampung sendiri, ngobrol dengan bahasa kami, yang mungkin tidak dipahami oleh orang sekitar membuat suasana menjadi seru. Tanya asal daerah, berbagi pengalaman, berapa lama di parantauan, itu selalu menjadi topik pembicaraan setiap bertemu dengan orang baru dan dari daerah yang sama.

Apalagi bertemu pedagang yang satu daerah, potongan harga, ataupun bonus pastinya ada. lumayan lah, sembari jadi pelaris dan teman ngobrol si penjual. Dan pastinya saya jadi pelanggan tetap si penjual, karena sudah murah dan tentunya serasa balik ke kampung halaman.

PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK

Experience is the best teacher, begitu kata pepatah barat. Saya dulunya termasuk orang yang minim pengalaman, karena setiap harinya hanya berada di lingkungan sekitar rumah.

Tapi dengan merantau saya memulai moncoba hal-hal baru, dari pertama kali naik kereta, pertama kali naik ojek online, pertama kali tidur di emperan toko, pertama kali sakit tanpa ditemani orang tua, dan masih banyak lagi.

Tentu semua itu tidak akan saya rasakan ketika saya tidak berani ambil resiko di awal untuk memulai sebuah perantaun.

Pengalaman itu mahal harganya. Hanya bisa dibayar dengan pengorbanan, perjuangan, dan keberanian untuk mencobanya.

MERANTAULAH!!

Di sesi terakhir ini saya hanya akan menambahkan beberapa kutipan  kelebihan jadi anak rantau.

Imam syafi’i ulama terkemuka pernah mumbuat sayir tentang pentingnya mencari ilmu ke tempat yang jauh, berikut syairnya :

 

Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)

”Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.”


“Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.”

“ Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya kebuasannya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.”


“Sang surya, andai selalu terpaku di ufuk, niscaya ia akan dicela oleh segenap ras manusia, dari ras arabia, tidak terkecuali selain mereka.”


“Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.”


“Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi. Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang berharga.”

KESIMPULAN

Di akhir tulisan ini sekali lagi saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata, karena saya masih dalam proses belajar agar tulisan saya menjadi lebih baik.

Semoga tulisan ini bermanfaaat bagi pembaca sekalian yang sedang ragu-ragu untuk mencoba keluar dari zona nyaman.

Sekali lagi pesan saya, masih banyak hal yang perlu dijelajahi diluar sana, keluarlah dari zoan nyaman demi membayar mahal harga sebuah pengalaman, yang akan dapat diceritakan kepada anak cucu kelak..

Saya ucapkan terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya yang masih berantakan ini. Semoga menambah wawasan dan informasi bagi pembaca sekalian.

Sekian dulu, Wassalamualaikum warohmatulloh..

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *