Catatan Seorang Santri

Ketika mendengar kata santri, sebagian orang menafsirkan dengan hal yang bersifat negatif. Mulai dari masa depan suram karena hanya belajar ilmu agama, kurang pergaulan karena hidupnya dikekang, dan masih banyak lagi.

Namun seiring berjalanya waktu, stigma tersebut mulai luntur dengan adanya tokoh-tokoh nasional yang terlahir dari dunia pesantren. Apalagi, pesantren saat ini sebagian besar sudah memakai kurikulum berbasis Diknas, agar santri bisa mengikuti pelajaran sebagaimana siswa di sekolah umum.

Tulisan ini dibuat karena saya pernah nyantri, dan merasakan bagaimana asyiknya menjadi santri. Dengan adanya tulisan ini, semoga pembaca dapat menambah wawasan tentang kehidupan para santri yang terisolasi dari dunia luar. Semoga bermanfaat, dan selamat membaca.

Santri harus mandiri

image via hikayatsantri.com

Kata mandiri memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para santri. Semuanya dilakukan serba mandiri. Kebiasaan ini dibangun sejak pertama kali masuk pesantren.

Bisa terbilang berat bagi mereka yang sebelumnya belum berpisah dari orang tua, apalagi bagi anak SD yang ingin melanjutkan SMPnya di pesantren. Keseharian mereka yang biasanya bergantung pada orangtua harus terlepas begitu saja.

Kemandirian yang memang belum terbiasa bagi santri baru, membuat mereka kesulitan untuk memulainya. Tapi, berkat bantuan dari kakak kelas dan para pengasuh, akan membuat meraka cepat mandiri.

Seseorang santri yang dari kecilnya sudah terbiasa hidup mandiri, akan mudah menjalani kehidupanya kelak di kemudian hari. Rasa percaya diri, tahan mental, serta kreativitas akan memudahkanya menghadapi kejamnya dunia luar.

Hidup yang Penuh Peraturan

sabillulmukhlisin.org

Didalam pesantren semuanya serba diatur, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semua ada konsekuensi ketika larangan itu dilanggar. Berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan dunia luar juga dibatasi, mulai dari gadget, komik, novel, dll.  Semua itu dialksanakan agar para santri fokus belajar dan tidak terkontaminasi dengan dunia luar.

Namun, manusia tetaplah manusia. Perasaan tidak ingin dikekang pastinya ada. Berbagai cara dilakukan agar bisa memuaskan hawa nafsunya. Tak jarang, harus ada santri yang kehilangan rambutnya  karena melanggar berbagai macam peraturan yang ada. Atau harus dipulangkan karena tidak bisa mematuhi berbagai aturan yang telah ditetapkan.

Begitu juga dengan ibadah para santri. Semuanya diatur sedemikina rupa, agar kedepanya menjadi kebiasaaan yang bisa diterapkan ketika sudah lulus.

Dari bangun tidur yang lebih awal dari biasanya agar bisa melaksanakan sholat tahajjud, kemudian dilanjut sholat shubuh secara berjamaah. Setelah sholat shubuh pun dilanjut dengan tilawah alquran, tanpa ada toleransi untuk tidur lagi.

Untuk masalah sholat 5 waktu, juga diwajibkan untuk datang ke masjid 30 menit sebelum adzan berkumandang.

Semua itu dilakukan agar para santri sadar bahwa kehidupan akherat itu lebih penting daripada mengejar kehidupan dunia.

Kehidupan di pesantren memang menjunjung tinggi nilai-nilai agama diatas segalanya, agar kedepanya bisa membimbing masyarakat meuju kehidupan yang islami.

Semua Serba Antri

image via pesantrennuris.net

Dengan banyaknya jumlah santri, tentu penggunaan fasilitas tidak bisa digunakan semau mereka. Budaya antri memang sudah menjamur di kalangan santri.

Kebiasaaan antri ini akan menimbulkan nilai-nilai akhlaq yang terkandung didalamnya, mulai dari berlaku jujur, hingga melatih kesabaran. Dan tentunya kebiasaan ini ketika mereka bawa setelah lulus, akan berdampak baik pada masyarakat sekitar.

Rasa Solidaritas

image via unsplash.com

Perbedaan latar belakang daerah, adat-istiadat, budaya, bahasa, prilaku, keilmuan, serta status sosial yang disandangnya sebelum menjadi santri, akan ikut mewarnai dalam kehidupan dilingkungan pesantren.

Dengan adanya banyak perbedaaan tersebut, jutru membuat santri lebih mengenal indonesia secara menyeluruh. Semua perbedaan itu disatukan di pesantren. Ada beberapa pesantren yang memenag mewajibkan penggunaan bahasa indonesia, agar semua santri bisa berkomunikasi antara satu dengan yang lain

Dari segi status sosial, semua juga disama ratakan di dunia pesantren. Semua santri makan dengan menu yang sama, meski bisa terbilang sederhana, tapi rasa kebersamaan lah yang membuat rasa makanan menjadi nikmat karena di selingi dengan gurauan dan canda tawa.

Semua kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama selama 24 jam. Mulai dari makan, belajar, olahraga, hingga tidur, membuat rasa solidaritas diantara mereka semakin kuat. Sikap solidaritas itu mendarah daging dalam hidup mereka. Bukan hanya ketika mereka menjadi santri saja, tapi ketika mereka sudah lulus, mereka tidak akan pernah melupakan semua kegiatan yang pernah mereka laklukan bersama.

Penyakit Gatal-Gatal

image via google

Lingkungan yang mungkin kurang bersih, karena banyaknya jenis manusia yang hidup di dalamnya, membuat beberapa santri terkena penyakit kulit/ gatal-gatal. Ya, sampai ada sebuah slogan yang berbunyi “ belum bisa disebut santri kalau belum gata-gatal”. Memang lucu kedengarannya, tapi ini fakta. Penyakit kulit sudah seperti ospek yang harus dilewati oleh setiap santri.

Ketika salah satu santri sudah terkena penyakit ini, maka tidak butuh waktu lama bagi yang untuk merasakan nya juga. Kecuali, bagi mereka yang bisa benar-benar menjaga kebersihan mereka

Biasanya yang terkena penyakit ini hanya santri baru. Bagi santri lama, mungkin mereka sudah kebal, hehe. Dan dengan sakit ini, para santri biasanya memanfaatkan untuk perizinan pulang, agar bisa berobat dirumah, atau agar bisa menghirup kebebasan di luar pesantren, :-D.

Walaupun begitu, gatal-gatal ini bisa jadi cerita unik yang takkan mudah dilupakan.

Budaya Ghosob

image via google.com

Ghosob merupakan suatu tindakan di mana seseorang memakai barang seseorang tanpa izin. Namun tidak untuk diambil ataupun dimiliki. Walaupun sebenarnya sudah dilarang oleh pihak pesantren, namun budaya ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang sulit dihilangkan.

Saya ambil sandal sebagai contoh. Sudah banyak cara yang dilakukan pihak pesantren untuk mecegah kebiasaan ghosob sandal ini. Mulai dari menyuruh memberikan tanda pada setiap sandal , baik ditandai dengan coretan sampai ukiran, kebiasaan itu memang sulit dihilangkan.

Bahkan ada beberapa pesantren yang dengan sukarela membelikan sandal bagi setiap santri agar tidak ada lagi pengghosoban, namun seiring berjalanya waktu kebiasaan itu akan muncul lagi. Awal mula terjadi ghossob adalah ketika salah satu santri ghossob maka, maka santri yang tadi sandalnya dighossob juga kan melakukan hal yang sama, begitu seterusnya.

Kebiasaan ini walupun jelek, namun menjadi kebiasan yang turun-temurun. Dibutuhkan kesadaran dan kedewasaan para santri agar kebiasan ini bisa hilang. Dan ini menjadi tugas dan beban bagi para pengasuh untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

Semua Orang Berhak untuk Berprestasi

image via pixabay.com

Banyak orang yang menganggap bahwa jadi satri itu masa depanya hanya bergelut di bidang agama, tapi nyatanya sekarang ini banyak santri yang mampu bersaing dengan lulusan non-pesantren di bidang akademik. Para santri juga bisa masuk perguruan tinggi ternama di indonesia dalam bidang pengetahuan umum.

Sehingga tak jarang kita temui beberapa tokoh nasional yang dulunya pernah nyantri. Kehidupan di pesantren sebenarnya bukan mengekang dengan  materi agama saja. Intinya adalah kehidupan pesantren mengajarkan bagaimana menjunjung nilai-nilai keislaman.

Menjadi seseorang yang berprofesi bukan di bidang agama bukanlah merupakan suatu kesalahan.Yang salah adalah ketika seseorang fokus kepada kehidupan dunianya, namun lupa dengan kehidupan akheratnya

Seorang santri yang sudah mempunyai kebiasaan baik dari pesantren, ketika keluar, kebiasaan itu akan dibawa. Baik itu berprofesi sebagi, dokter, ilmuwan, tentara, dan berbagai macam pekerjaan yang memang tidak berfokus dibiadng agama.

Mungkin itu dulu yang bisa saya jelaskan sedikit mengenai lika-liku dunia pesantren, mohon maaf bila masih banyak salah dalam penggunaan kosakata.

Sekian, wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *