Cerita Tentang Sekolahku

Pendidikan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan layaknya pohon yang  yang tidak pernah mendapatkan siraman air. Ia akan kehilangan sumber pokok kehidupanya.

Seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa kebutuhan manusia pada ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka akan makan dan minum. Seseorang membutuhkan makan dan minum dalam sehari hanya satu atau dua kali. Sedangkan ilmu, dibutuhkan manusia setiap detik napasnya.

Saking pentingnya kebutuhan terhadap ilmu, dalam pandangan islam, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu sejak kecil hingga akhir hayat. Dalil-dalil yang berbunyi perintah untuk mencari ilmu banyak kita temukan di dalam al-quran maupun hadits.

Seseorang yang berilmu juga akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik disisi-Nya, ataupun dimata manusia.

Disini, saya akan menceritakan bagaimana saya menjalani berbagai macam pendidikan saya, mulai dari kecil sampai sekarang.

Sebelum Menginjak Bangku Sekolah

unsplash.com

Orantua adalah madsrasah pertama bagi anak-anaknya, mereka akan menjadi role model bagi anak-anaknya, merekalah yang akan membentuk karakter sang anak. Begitu juga dengan orangtua saya.

Saya dilahirkan dari keluarga yang agamis, kegiatan yang memang bentuknya ibadah mulai dibiasakan semenjak saya kecil. Mulai bangun shubuh, sholat berjamaah di masjid, membaca alquran, memakai pakaian yang menutup aurot, dan berbagai kegiatan lainya.

Mulai mebiasakan susuatu dari kecil memang efektif. Terbukti sampai sekarang saya sulit menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Selalu ada yang mengganjal ketika ada kebiasaan yang lupa dilakukan.

Difase ini, saya sudah diajarkan orangtua menulis dan membaca, yang mungkin anak seumuran lainya belum diajarkan oleh orangtuanya. Begitu juga dengan memabaca qur’an. Kalau boleh dimisalkan, saya sudah mencapai tingkat pertengahan dalam belajar membaca quran, sebelum masuk taman kana-kanak.

Dan satu lagi, masa kecil saya adalah masa, dimana saya mempelajari sesuatu yang saya pahami ketika sudah dewasa. Orangtua dulunya memang bukan dari golongan yang berkecukupan, sehingga hidup kami kala itu bisa dibilang sederhana, atau bahkan kekurangan.

Saya sering menemani ayah saya berjualan keliling mengedarkan makanan kecil ke sekolahan-sekolahan. Itu semua dilakukan untuk menafkahi keluarganaya. Dari situ saya belajar bahwa perjuangan orangtua dalam menghidupi anak-anaknya bukanlah perkara yang mudah

Masa Taman Kanak-Kanak

http://kbtkitponggok.ibadurrahman.sch.id

Walaupun serba kekurangan, tapi orangtua tidak mau anaknya tidak berpendidikan. Saya disekolahkan di sekolat TK swasta yang bekurikulum islam. Di jaman saya, sekolah yang berbasis islam bisa dihitung dengan jari, tidak seperti sekarang yang sudah banyak dimana-mana.

Di sekolah tersebut, saya belajar sebagaimana anak pada umumnya. Lebih asyik bermain daripada belajar. Kan namanya taman kanak-kanak, bukan sekolah, ya intinya main. Hehe 😀

Di sekolah tersebut saya sudah mulai lancar membaca alquran, dan hafal setengah dari juz 30. Prestasi yang mungkin bisa dibanggakan kala itu. Kalau sekarang sih udah banyak kayaknya.

Cerita yang saya ingat waktu itu memang tidak banyak, hanya beberapa yang mungkin masih melekat. Seperti dimarahi guru karena muter-muter  ketika menghafal surat alfalaq, atau beberapa teman yang kepalanya sering bocor, karena terlalu over  dalam bermain.

Sekolah Dasar

google.com

singkat cerita, setelah saya lulus dari TK tersebut, saya disekolahkan di sekolah dasar yang juga mempunyai kurikulum islam.Tapi, kali ini letaknya lebih jauh dari rumah. Di kota sebelah. Alasanya karena di kota saya belum ada sekolah yang yang memang berbasis islam.

Setiap harinya, saya diantar oleh ayah saya, yang juga kebetulan menjadi guru di kota tersebut. Sistem sekolahnya full-day school, masuk pagi, pulang sore. Kecuali hari sabtu yang masuk setengah hari.

Pendidikan agama juga diterapkan sedemikian rupa di sekolah tersebut. Dan alhamdulillah hafalan alquran saya juga bertambah menjadi 3 juz setelah lulus SD. Untuk pelajaran non-agama juga diajarkan sebagaimana sekolah lainya. Bahkan, beberapa teman dan kakak kelas mampu bersaing  dalam mata pelajaran umum di berbagai perlombaan di luar sekolah.

Mulai dari kelas 4 sd saya berangkat sekolah dengan bis. Perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.Berangkat jam 6 pagi, sampai rumah jam 5-an.  Kadang harus berangkat lebih pagi ketika ada jadwal les tambahan.

Ada cerita lucu, ketika masuk musim hujan, kami satu rombongan suka bermain hujan-hujanan. Sepulang sekolah kami bermain hujan-hujanan sambil menunggu bis yang datang, didalam bis pun kami dalam keadaan basah kuyup. Dan kala itu kami tidak mengenal mengenal rasa malu. Asal senang, itu sudah cukup.kadang memang cukup menggelikan ketika mengingat moment itu.kok dulu nggak punya malu ya.

Prestasi di tingkat SD ini juga tidak terlalu jelek, saya selalu masuk rangking 3 besar. Walaupun pas kelulusan saya terlempar jauh dari 3 besar

Mulai Masuk Pesantren

google.com

Setelah 6 tahun di bangku sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikan saya di salah satu pesantren di semarang. Disitulah saya mulai hidup mandiri, bertemu berbagai macam jenis orang dari berbagai pelosok indonesia.

Diawal-awal masuk pesantren kita sebagai santri baru mulai dihadapkan dengan berbagai peraturan yang sebelumnya belum pernah kami lakukan di rumah.

Seperti pergi ke masjid sebelum adzan berkumandang, memakai sarung setiap sholat, larangan memakai bahasa daerah, setiap keluar dari pesantren harus ada izin terlebih dahulu, dan masih banyak lagi.

Semua peraturan itu ketika dilanggar ada konsekuensinya, baik fisik maupun mental. Bisa jadi Cuma sekedar push-up atau dipermalukan didepan umum.

Ada beberapa kemampuan yang memang terasah setelah saya masuk pesantren. Salah satunya adalah kemampuan berbahasa arab dan inggris. Dua bahasa ini menjadi bahasa yang wajib digunakan sehari-hari.  Ada hukuman juga ketika ketahuan memakai bahasa indonesia apalagi bahasa daerah.

Amalan –amalan ibadah juga bertambah semenjak masuk pesantren. Alokasi waktu untuk membaca alquran bertambah, sehingga hafalan quran pun juga bertambah.

Ketika masih SMP, keseharian saya sebagai santri hanya mengalir seperti air. Bangun tidur, ikut kegiatan, makan, sampai tidur lagi. Semuanya berjalan sesuai peraturan.

Masa Masa Sibuk

google.com

Setelah masuk tingkat SMA, saya mulai mendapatkan berbagai tugas.

Dikelas 1 SMA saya ditugaskan menjadi ketua kamar bagi santri baru.menggantikan peran orang tua bagi mereka bagi yang belum terbiasa. Mengajarkan kepada mereka bagaimana beradaptasi dengan berbagai peraturan.

Mulai kelas 2 SMA, beban semakin banyak. Saya dan teman-teman diwajibkan mengikuti organisasi semacam osis. Kalau di pondok istilahnya “mudabbir”. Organisasi ini mengatur seluruh kegiatan santri dari kelas 1 SMP sampai kelas 1 SMA. Saya dibebani menjadi bagian bahasa, yang tugasnya adalah membimbing para santri agar bisa berbahsa arab maupun inggris.

Di organisasi tersebut kami belajar bagaimana berorganisasi dengan benar. Menyelesaikan berbagai masalah, baik dari external maupun internal. Banyak pengalaman yang saya ambil ketika aktif berorganisasi.

Setelah setahun menjadi mudabbir, kami menjadi kelas paling senior di pesantren. Istilahnya semi ustadz kata guru saya.

Di fase akhir ini kita dihadapkan dengan berbagai macam ujian, dari ujian pondok, ujian sekolah, ujian tahfidz. Ada praktek lapangan juga, agar ilmu bukan hanya sekedar teori tapi juga praktek.

Karena kita merasa paling senior, beberapa peraturan seperti sudah diabaikan. Walau tidak dibenarkan, tapi tradisi ini sudah turun-temurun.  Mungkin sudah bosen diatur J

Pengangguran.

 

Setelah lulus dari pesantren, kami diberi dua pilihan antara kuliah atau pengabdian. Saya coba mendaftar di berbagai macam universitas. Tapi tak ada satupun yang menerima saya.

Mau tak mau, akhirnya saya ambil opsi kedua, yaitu pengabdian. Saya ditempatkan di sebuah lembaga sekolah dasar. Kerja saya adalah mengajar materi agama bagi murid sd.

Disela-sela kesibukan saya mengajar, saya mencoba meniatkan kembali belajar untuk masuk ke universitas. Tapi namanya santri baru lulus, seperti burung yang keluar dari sangkar. Saya lebih banyak main daripada fokus belajar.

Hasil adalah buah dari usaha. Usaha saya yang pas-pasan kalah jauh dari mereka yang fresh graduate. Dan akhirnya tahun itu saya memang bisa disebut “pengangguran”

Keinginan saya untuk kuliah masih menggebu-gebu. Saya masih sempet juga belajar, sampai ikut les online. Tapi qodarulloh saya juga belum diterima di universitas mnapun.

Setelah 3 tahun di tolak universitas, orangtua juga mulai prihatin. Akhirnya menyarankan agar ikut program menghafal quran. Maka saya cari-cari info program menghafal quran. Dan akhirnya dapat satu tempat di bandung. Untuk cerita tentang pengalaman saya di bandung ada di artikel lain.

Mungkin sekian dulu dari saya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Dan saya mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam ilmu kepenulisan.

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *