Karantina Tahfidz Al-Qur’an

Tahun itu adalah tahun ketiga setelah saya lulus dari bangku SMA. Keinginan untuk kuliah masih ada saat itu. Saya coba mendaftar di berbagi PTN, karena tahun itu adalah tahun terakhir berlakunya ijasah saya kalau masih mau kuliah di universitas negeri.

Mulai dari SBMPTN, ujian mandiri, semua saya coba demi bersekolah di universitas negri. Tapi qodarulloh, semua universitas menolak saya.

Universitas swasta sebenarnya masih banyak yang masih buka pendaftaran, tapi dengan kondisi keuangan orangtua saat itu, tidak mungkin  rasanya untuk memaksakan kehendak.

Resah, gelisah, cemas, bingung, semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. Bayangan akan masa depan yang tidak jelas mulai bermunculan. Mau jadi apa saya ini.

Orangtua yang juga ikut prihatin akhirnya menawarkan untuk menghafal quran . Tawaran yang akhirnya menjadi solusi akan ketidakjelasan masa depan saya. Hitung-hitung juga sebagai bakti kepada orang tua, setelah 2 tahun belakangan jadi pengangguran karena memaksa kehendak untuk kuliah di universitas negri.

Berkat rekomendasi dari saudara, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti salah satu program dai IAC ( Indonesia Alquran Center).  Saya ambil program Karantina Tahfidz Quran almahir bil quran selama 6 bulan.

Pendaftaran

Seleksi pendafatran saat itu mengharuskan peserta untuk datang ke sana, berbeda dengan sekarang yang mungkin bisa seleksi lewat online. Setelah memantapkan niat, dengan berbekal info dari panitia, saya pun berangkat menuju bandung.

Perjalanan memakan waktu 9,5 jam dengan mengendarai kereta. Ini adalah pengalaman pertama kali saya naik kereta. Berangkat dari rumah sore, sampai bandung menjelang shubuh. Perjalanan yang cukup melelahkan. Apalagi dengan bangku kelas ekonomi yang kemiringannya 45 derajat.

Sesampainya di tempat tujuan, saya langsung di persilahkan untuk istirahat oleh panitia. Dan ternyata, seleksi masih dilaksanakan 2 hari lagi. Hari itu saya habiskan hanya untuk istirahat. Besoknya datang satu peserta yang akan ikut seleksi. Setelah saling berkenalan, ternyata dia sudah pernah selesai 30 juz.

Sore hari, datang lagi satu peserta yang ternyata juga sudah pernah selesai 30 juz. Duh, rasanya minder. Bayang-bayang takut gak ketrima muncul. Mau kemana nanti kalau gak diterima.

Akhirnya hari seleksi pun tiba. Saya hitung satu-persatu peserta yang datang, sebagai observasi peluang saya diterima.  Apalagi dengan penampilan mereka yang serba jubah membuat saya tambah minder.

Tes seleksinya adalah menghafal satu halaman dalam waktu setengah jam. Total kesuluruhan 5 halaman. Saat itu saya cuma bisa menyetorkan 4 halaman. masih ada rasa takut gak diterima saat itu.

Karena pengumuman masih 3 hari lagi, saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Di perjalanan, pikiran saya kemana-mana. Mencari solusi kalau-kalau gak diterima.

Berangkat dari Rumah

Tepat 3 hari setelah seleksi, pengumuman akhirnya keluar juga. Dan alhamdulillah, nama saya tercantum di daftar peserta yang diterima, begitu juga 2 teman saya tadi. Setelah semua persiapan beres, dengan berat hati, saya harus meninggalkan rumah untuk beberapa bulan kedepan. Berbagai nasehat dan air mata dari ibu menyertai keberangkatan saya saat itu.

Saya berangkat lebih telat daripada yang lain, karena menyesuaikan tiket kereta. Berangkat siang hari, dan sampai bandung malam jam 12an. Setelah konsultasi panitia, saya disarankan untuk langsung ke asrama agar bisa langsung istirahat.

Sesampainya di stasiun, langsung pesen grabcar untuk menuju asrama. Waktu itu jam 1 lebih ketika saya tiba di asrama. Ternyata gerbang di kunci. Saya telfon pembina, gak diangkat, telfon 2 temen yang keterima kemarin juga gak diangkat.

Karena terlalu capek di perjalanan, dan juga kelaperan karena semenjak siang gak makan, akhirnya saya memutuskan untuk mencari makan. Koper saya turunkan perlahan lewat gerbang, kemudian saya jalan-jalan untuk mengisi perut yang sudah berbunyi berulang kali.

Tidak ada warung yang buka, karena memang saat itu sudah hampir jam 2 pagi. Akhirnya saya menemukan toko, kemudian membeli beberapa roti dan air mineral untuk mengganjal perut. Saya balik lagi ke asrama dan saya coba telfon lagi pembina dan 2 temen saya tadi. Hasilnya msih sama, nihil.

Karena memang sudah benar-benar capek dan gerbang tidak bisa dibuka, akhirnya dengan sangat terpaksa menggelar sajadah di depan ruko yang letaknya samping asrama. Bukan untuk tahajjud, tapi untuk tidur, memejamkan mata yang sudak tak kuat menahan kantuk.

Pintu gerbang dibuka menjelang shubuh. Baru saya bisa masuk ke dalam. Pengalaman ini benar-benar melekat di ingatan saya sampai saat ini.

Kegiatan Sehari-hari

Karena ini program karantina, tentu kegiatannya pun padat. Tidak seperti pesantren tahfidz pada umumnya. Bagi saya yang pengangguran selama 2 tahun, jadi agak kaget dengan sistem baru seperti ini. Butuh adapatasi agar bisa mengikuti program dengan baik.

Berikut adalah kegiatan sehari-hari saya selama ikut program Karantina Tahfidz Quran

Ziyadah

Ziyadah adalah menambah hafalan baru. Alokasi waktunya dari habis shubuh sampai setengah sebelas siang, diselingi dengan istirahat makan. Di waktu ini kami para santri menghafal dengan batas maksimal setengah juz.

Adanya batasan agar para santri juga bisa mengulang hafalan. Saya biasanya menyetorkan 6 sampai maksimal 8 halaman, jumlah ziyadah biasanya juga tergantung rekan partner. Karena kita saling berlomba-lomba setoran hafalan ke pembina

Ketika sudah mulai masuk jam 10. Mulai terlihat beberapa tindakan aneh, dari mengacak-acak rambut, melamun, atau sekedar jalan-jalan gak jelas. Itu semua karena otak kami sudah mulai mentok alias batas maksimal. Sebelum akhirnya kami diijinkan untuk istirahat.

Qailulah

Qailulah adalah tidur menjelang dhuhur. Sunnah ini memang dianjurkan bagi kami para santri. Menurut yang saya ketahui, qailulloh dapat menguatkan hafalan, walaupun saya belum re-check benar atau tidaknya.

Tapi kalau dilihat berdasarkan pengalaman pribadi memang begitu kenyataanya. Hafalan saya yang kurang lancar di waktu setoran, bisa lancar di waktu murojaah.

Murojaah

Sistem murojaah/pengulangan terbagi menjadi 2. Murojaah dekat dan murojaah jauh.

Murojaah dekat adalah menggabungkan semua hafalan baru yang disetorkan di pagi hari. Waktunya siang hari, dan disetorkan kepada partner.

Sedangkan murojaah jauh adalah mengulang apa yang sudah di hafal kemarin hari. Waktunya sore hari sampai jam 5. Di setorkan juga kepada partner.

Bagi yang tidak memurojaah hafalan, resikonya adalah tidak bisa menambah hafalan baru di hari besoknya, sebelum hafalan lamanya disetorkan kepada partner.

Tasmi’ Pekanan

Tasmi’ adalah menyetorkan hafalan ke teman. Biasanya dilakukan sekali duduk, atau satu waktu.

Setelah seminggu menambah hafalan baru, kami diwajibkan untuk menyetorkan semua yang sudah dihafal. Setoranya juga kepada partner, dan dilakukan di akhir pekan.  Karena libur kami hari jumat. Setoran dimulai dari kamis sore sampai jumat pagi bagi yang belum selesai.

Tasmi’ per Pos

Hafalan yang kita kumpulkan semakin hari semakin banyak. Maka diadakan tasmi’ per pos. Pos 5 juz, 10 juz, 15 juz, 20 juz, 25 juz, hingga akhirnya mneyetorkan seluruh isi alquran. Tujuanya agar menguatkan hafalan dan tidak kaget ketika disuruh menyetorkan seluruh hafalanya di akhir program.

Untuk tasmi’ per pos ini diberikan waktu untuk persiapan. Biasanya seminggu atau tergantung kesiapan santri. Tasmi’ ini juga disetorkan kepada partner masing masing. Diusahakan sekali duduk, walau sebagian besar dari kami harus molor dari waktu yang ditentukan.

Parade Tasmi’

Ini adalah acara puncak dari karantina. Semua santri mempertanggung jawabkan seluruh hafalan yang ia kumpulkan selama 6 bulan.

Karena dulunya kami terbagi menjadi beberapa kafilah, di acara tasmi’ ini semua dikumpulkan jadi satu. Kami mengenal wajah-wajah baru. Saling cerita berbagi pengalaman di berbagai kafilah.

Parade tasmi’ berlangsung selama satu minggu. Kegiatan dilakukan dari habis shubuh sampai jam 10 malam. Satu persatu santri maju  menyetorkan hafalanya. Dimulai dari yang paling banyak hafalanya sampai yang paling sedikit.

Tasmi’ kali ini juga berbeda, karena yang menyimak bukan satu orang lagi, melainkan seluruh santri. Ini juga untuk menguji mental para santri. Karena nanti sebelum wisuda akan ada tasmi’ akbar yang disimak oleh ratusan orang.

Rihlah

Kami para santri adalah manusia normal, yang juga merasakan penat dan lelah. Setelah 6 bulan otak kami diperas, ditambah menyetorkan seluruh hafalan, akhirnya waktu refreshing tiba.

Jaket rei KW warna ijo tosca mewarnai perjalanan kami. Berangkat menuju sari ater di jalan ciater subang jawa barat.

Rihlah kali ini berlangsung 3 hari 2 malam. Diisi dengan berbagai macam permainan yang memupuk rasa kebersamaan. Kegembiraaan dan keceriaan terlihat dari raut wajah mereka, seolah beban yang berat itu telah lepas begitu saja. Apalagi dengan keterbukaan para pembina yang membuat suasana semakin menjadi-jadi.

Wahana rekreasi dan fasilitas di sari ater juga cukup memanjakan kami. Mulai dari camping park rasa hotel, pemandian air panas, spot-spot foto, dan masih banyak lagi. Kami juga sempat bermain paintball, go-kart, dan ATV.

Setelah terpuaskan selama 3 hari akhirnya kami pulang untuk persiapan tasmi’ akbar dan wisuda.

Wisuda

Wisuda adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan karena itu telah melewati masa-masa sulit. Menyedihkan karena kekeluargaan yang dibangun selama 6 bulan itu akhirnya harus bubar, menyisakan kenangan-kenangan manis nan indah untuk dikenang.

Proses acara sebenarnya dimulai dari tasmi’ akbar satu hari sebelumnya. Dimana para santri akan membacakan full 30 juz dan disimak oleh ratusan orang. Para santri bergiliran maju untuk membaca 3 juz per orangnya. Dimulia dari jam 8 pagi hingga selesai pukul 3 pagi.

Paginya kami langsung menuju Sabuga untuk acara wisuda. Diawali dengan seminar internasional dari para guru-guru kami, kemudian dilanjut dengan acara wisuda.

Acara wisuda berlangsung khidmat. Santri dipanggil satu-persatu maju keatas panggung, kemudian orangtua/wali santri juga ikut naik panggung. Setelah diberi ijasah oleh para guru, kami berpelukan dengan orangtua kami, tak sedikit yang meneteskan airmata. Suasana haru, dan bahagia bercampur satu.

Wisuda ditutup dengan beberapa nasehat dari guru kami. Salah-satunya adalah tetap memurojaah hafalan yang sudah susah payah kami dapatkan.

Mungkin itu dulu yang bisa saya ceritakan, artikel berikutmnya insyaALLAH masih berhubungan dengan kegiatan saya di Bandung.

See you in the next artikel…

 

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *