Pengalaman Pertama Kali Naik Gunung

Saat ini, mendaki gunung adalah suatu kegitaan yang bisa dijadikan hobby. apalagi ketika film 5cm mulai tayang, animo masyarakat untuk medaki gunung semakin tinggi. Saya akan menceritakan bagaimana saya mendaki gunung untuk pertama kalinya.

Acara Tahunan

pexels.com

Di pondok kami, ada kegiatan yang rutin dilakukan setahun sekali, biasanya dilakukan ketika kakak kelas kami sedang menjalani Ujian Nasional.

Kegiatan yang dilakukan berbeda antara santri smp dan sma. Untuk kelas 1 & 2 smp acaranya adalah siyahah, atau jalan jauh menuju suatu tempat, biasanya sih pantai. Sedangkan untuk kelas 1 & 2 SMA biasanya diisi dengan mendaki gunung.

Untuk kelas 3 SMP maupun SMA masih fokus untuk Ujian Nasional. Baru setelah ujian mereka bebas menentukan acara yang akan mereka lakukan.

Saat itu saya kelas 3 SMP. Setelah selesai melaksanakan Ujian Nasional, saya dan teman-teman saya menyepakati untuk mendaki gunung.

Karena rata-rata dari kami belum pernah sama sekali mendaki gunung, maka pilihan kami jatuh kepada Gunung Merapi. Pertimbangannya karena gunung ini memiliki ketinggian bisa dibilang menengah kebawah. Sudah cukup menyulitkan bagi kami para pendaki pemula.

Persiapan

https://www.youtube.com/watch?v=LNp7JFB9IZ4

Berbagai halnya mulai kami persipakan. Mulai barang-barang pribadi seperti sepatu, jaket tebal, senter, kupluk, dan segala jenis barang yang dapat menghangatkan tubuh ketika diatas gunung.

Kami juga dibagi menjadi 3 kelompok agar memudahkan kordinasi. Barang-barang kelompok seperti peralatan masak, jerigen untuk air minum, obat-obatan, dan juga gula merah yang konon katanya dapat mengembalikan tenaga ketika capek.

Kami memang sengaja tidak menyiapkan tenda. Karena kami para santri, biasanya memulai pendakian pada malam hari dan besok paginya sudah turun lagi, sehingga tidak membutuhkan tenda untuk bermalam.

Keberangkatan

 

Setelah semua barang sudah siap, pimpinan pesantren memberikan wejangan berupa adab-adab diperjalanan yang harus dijaga.

Kami pun  berangkat menuju base camp merapi. Perjalanan ini menggunkan truk terbuka. Keceriaan dan kebahagiaan terpancar dari wajah kami. Canda dan tawa mengiringi panjangnya perjalanan itu, sebagai pertada euforia setelah selesainya ujian nasional.

Istirahat di Basecamp

renirahmahidayani.wordpress.com

 

Kami sampai di basecamp merapi pada sore hari. Karena perjalalan dimulai pada malam hari, maka kami memutuskan untuk menginap di basecamp.  Saat itu adalah malam minggu, dan kami tidak mendapatkan tempat untuk istirahat di basecamp karena saking penuhnya pengunjung.

Akhirnya kami dialihkan oleh pihak basecamp untuk menginap di salah satu rumah warga. Keramahan dari warga sekitar membuat suasana menjadi nyaman untuk istirahat.

Setelah sholat dan makan malam, kami diberi kebebasan oleh ustadz kami malam itu. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menghilangkan jenuh, mulai dari jalan-jalan keliling kampung sekitar, ngobrol  dengan warga, nongkrong di warung atau sekedar tidur mengilangkan lelah perjalanan.

Mulai naik ke puncak

http://manado.tribunnews.com

Perjalanan dimulai pukul 11 malam. Diawali dengan doa kami berangkat beriringan saling berkelompok. Saran dari ustadz kami saat itu agar tidak dulu memakai jaket yang tebal, karena keika sudah mulai perjalanan keringat akan keluar.

Walau saat itu sangat dingin, kami para pemula hanya sanggup memetuhi perintah. Takut terjadi apa-apa di tengah perjalanan.

Ketika perjalanan baru berjalan sekitar 10 menit, tiba-tiba salah satu teman muntah-muntah. Kami tak mungkin meninggalkanya, hitung-hitung sebagai istirahat pertama. Setelah semua terkondiskan, kami melanjutkan perjalanan.

Kekompakan adalah kunci perjalanan kami untuk sampai di puncak. Ketika ada satu yang kecapekan maka semua juga istirahat.

Selama pendakian, pemandangan kota terlihat dari atas. Gemerlap cahaya dari bawah menambah keindahan suasana kota pada malam itu. Kadangkala jadi membayangkan nikmat tidur yang mereka rasakan, ketika lelah sudah mengahmpiri.

Setelah semua merasa capek, akhirnya kami istirahat. Istirahat ini berlangsung lumayan lama, karena sudah hampir sampai di pasar bubrah dan waktu pagi masih lama. Kami yang inigin melihat sunrise dari puncak akhirnya menyetop perjalanan, agar timingnya pas. Kita sampai dipuncak ketika matahari hampir terbit.

Rata-rata dari kami memanfaatkanya dengan tidur, meski dengan alas seadanya. Sarung, sleepingbag, atau celah diantara batu-batu besar menjadi sarana tidur kami malam itu. Tidur yang menurut saya tidak ada nyenyak-nyenyaknya, karena sangat dingin.

Menjelang jam 3an kami dibangunkan untuk melanjutkan perjalanan. Gigi-gigi kami bergetar karena kedinginan. Mau tidak mau harus berjalan mengikuti perintah jika tidak mau tertinggal.

Sebelum sampai di pasar bubrah, kami melewati lokasi yang tandus bekas ledakan gunung. Trek yang dilewati juga hanya pasir. Butuh kehati-hatian agar tidak terpeleset, karena tepat di samping kami adalah jurang yang dalam.

Sampai di pasar bubrah

yuliaslovic.com

Menjelang subuh kami sudah sampai di pasar bubrah, puluhan tenda berdiri memenuhi tempat tersebut. Berdasarkan informasi, tempat ini adalah tujuan akhir bagi para pendaki. Larangan untuk menuju puncak dikarenakan alasan keamanan, karena gunung merapi ini masih tergolong gunung yang cukup aktif.

Cuaca ketika kami sampai di pasar bubrah saat itu memang sedang tidak baik, hujan rintik-rintik di sertai angin membuat kami semua bersembunyi dibalik batu-batu besar. Diselingi sholat subuh, kami kembali melanjutkan mencari kehangatan sembari berharap badai akan hilang dengan datangnya pagi.

Satu kelompok sudah mulai menyiapakan peralatannya. Perjalanan panjang membuat semua perut kami kosong. Tapi keadaan cuaca membuat kelompok lain enggan untuk mulai memasak. Masih menunggu pagi, mengaharap kehangatan dari matahari yang akan terbit.

Badai Angin dan Hujan

www.ariewitantra.com

Semakin pagi kami menunggu, bukan matahari yang muncul di sebelah timur. Justru hujan semakin deras, dan anginpun juga tak kunjung tenang.

Ustadz kami menyimpulkan bahwa cuaca buruk akan berlangsung lama. Hasrat untuk mengabadikan moment diatas ketinggian dengan cuaca cerah harus dikesampingkan. Bagi kami para pendaki pemula, tentunya cukup mengecewakan juga. Tapi tidak mungkin juga kami menunggu cuaca cerah yang entah kapan datangnya.

Walau dengan cuaca yang tidak cerah, kami tetap mengabadikan momen itu, sebagai kenang-kenangan, pertanda bahwa kita pernah mendaki gunung merapi.

Turun Gunung

www.bluetripper.com

Mulailah kami turun meninggalkan pasar bubrah. Dan dalam keadaan perut kosong karena kami belum sempat masak sarapan.

Ketika sudah mulai turun, baru terlihatlah matahari yang sebenarnya sudak terbit sejak tadi. Menghangatkan tubuh kami yang kedingininan sejak turun dari pasar bubrah. Sejenak istirahat sambil jepret sana-sini.

Karena saking laparnya, kamipun berlari menuruni gunung agar cepat sampai bawah dan sarapan. Hanya butuh waktu sekitar 1 jam kami sampai di basecamp.

Sayuran murah

 

Sesampain

metrobali.com

ya di bawah kami langsung mengeluarkan peralatan masak dan mulai memasak menu kesukaan kami, mie.

Penduduk setempat yang rata-rata berprofesi sebagai petani kami manfaatkan untuk membeli hasil tanaman mereka sebagai campuran mie. Dan yang bikin kami kaget adalah harganya yang dibawah standar.

Membeli sayuran dari warga sekitar memang menguntungkan. Dari segi harga yang memang sangat murah dan dari segi kualitas karena baru saja dipetik ketika kita baru akan membeli.

Pulang

Sambil menunggu truk jemputan, kami pun kembali membeli sayuran dari warga sebagai oleh-oleh. Dengan modal uang 10ribu kami bisa membawa satu kantong plastik besar berisi macam-macam sayuran.

Dan akhirnya kami pun kembali ke pesantren dengan membawa berbagai kenangan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *